SMA PANGUDI LUHUR DON BOSKO
SMA PL Don Bosko - Jl Sultan Agung No 133 Semarang 50234 - Indonesia  Telp. 024-8311015
Minggu, 19 November 2017  - 2 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


29.05.2015 10:04:10 1335x dibaca.
ARTIKEL
MENGEMBANGKAN SIKAP BIJAKSANA

BERUSAHA MENGEMBANGKAN SIKAP BIJAKSANA

(Salah satu Keutamaan Br. Bernardus Hoecken)

Oleh Br. Giwal FIC

 

 

Bapak Ibu yang terkasih, diakhir tahun ajaran 2014/2015 ini saya mengajak untuk mendalami dan menumbuhkan salah satu keutamaan Br. Bernardus yaitu sikap bijaksana. Cara ini sebagai bentuk, kita memahami dan mendalami 10 keutamaan Br, Bernardus. Dengan demikian kita mengajarkan Ke-Pangudi Luhur-an untuk diri kita sendiri.

 

PENGERTIAN DAN MAKNA

Menurut KBBI, Bijaksana berasal dari kata dasar bijak, yang berarti selalu menggunakan akal budinya, pandai, mahir. Kebijakan adalah kepandaian, kemahiran dan kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetetahuannya);  Kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan.

Dari pengertian tersebut kebijaksanaan dapat dimaknai sebagai suatu kecakapan atau ketrampilan dalam menghadapi setiap peristiwa kehidupan secara cerdas. Kebijaksanaan adalah pemahaman yang mendalam mengenai orang, benda, peristiwa atau situasi. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk memilih dan memilah, bertindak secara konsisten sehingga menghasilkan hasil terbaik dengan meminimalkan waktu dan energi. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk secara optimal (efektif dan efisien) menerapkan persepsi dan pengetahuan sehingga menghasilkan hasil yang terbaik. Kebijaksanaan adalah pemahaman tentang apa yang benar dibarengi dengan penilaian yang terbaik untuk bertindak, dengan melibatkan unsur kecerdasan, kearifan, atau wawasan. Kebijaksanaan sering diibaratkan kontrol suatu reaksi emosional sehingga seseorang yang punya prinsip, nalar dan pemahaman yang paling tepat. Standar definisi filosofis mengatakan bahwa kebijaksanaan berisi penggunaan terbaik dari tersedianya ilmu pengetahuan dan pengalaman seseorang. Lebih dari itu semua St Yakobus mengatakan: “Kebijaksanaan adalah rahmat Allah yang harus dimohon dan dilatih dalam suasana doa”.

 

BELAJAR DARI PERJANJIAN LAMA

Mari kita belajar mengembangkan sikap bijaksana lewat pengalaman iman Salomo. Dalam Perjanjian Lama kita mengenal mengenai Kebijaksanaan Salomo (Wisdom of Solomon). Kebijaksanaan Salomo sering dipandang sebagai hasil karya yang tertinggi pada zaman antar-perjanjian.  Ada beberapa hal yang menarik untuk dipelajari khususnya mengenai beberapa konsep teologi kitab ini, yaitu:

Konsep tentang Allah. Allah digambarkan sebagai sumber kebijaksanaan dan hikmat yang benar serta akar dari kebakaan. Allah adalah penguasa yang mutlak yang mengatur dunia. Allah juga digambarkan sebagai roh pendidik yang suci. Oleh sebab itulah dianjurkan kiata hendaknya mencari Allah. Caranya seperti apa yaitu dengan memiliki kebijaksanaan, menjauhi kefasikan dan kebodohan. Hal ini penting karena Allah mencintai orang yang mencari Dia dan hidup benar. Allah juga digambarkan sebagai kebenaran. Kebenaran disini adalah pikiran dan tindakan manusia yang hidupnya selaras dengan Allah serta menyatakan dalam hubungan dengan sesama. Allah adalah kebijaksanaan dan roh pendidik yang suci. Karena kebijaksanaan adalah roh, maka Allah adalah roh dan kebijaksanaan itu sendiri.

Konsep tentang manusia,  Manusia adalah ciptaan Allah (2:23 dikatakan bahwa manusia dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri). Tubuh manusia digambarkan sebagai tubuh dan jiwa. Kata jiwa dipakai kata keruh. Gambaran ini untuk menggambarkan bahwa manusia sudah dikuasai dosa, penuh dengan pikiran pandir, pikiran bengkang-bengkung dan tipu daya.        Manusia juga memiliki batas kehidupan yang nantinya juga akan mati, tetapi jiwa orang benar ada ditangan Allah. Manusia juga terbatas sehingga tidak dapat mengetahui rahasia Allah. Dalam dunia ada dua manusia: Pertama adalah orang benar. Orang benar sebaliknya mereka digambarkan tidak menguasai dunia tetapi menguasai kebijaksanaan sehingga ia dekat dengan Allah. Oleh sebab itu jika orang ingin mendapatkan tahta dan tongkat kerajaan yang sesungguhnya maka hargailah kebijaksanaan. Kedua adalah Orang fasik disini adalah orang yang hidup jauh dari Allah, tidak menyukai kebijaksanaan dan dijauhi Allah. Mereka memang menguasai dunia tetapi mereka tidak menguasai kebijaksanaan. Mereka menganggap dirinya menguasai jagad dan menjadi allah. Mereka sebenarnya tidak begitu salah sebab sebenarnya mereka mencari Allah dan berusaha untuk menemukan Allah tetapi celakanya dalam pencariannya itu mereka membuat allah sendiri dan menolak Allah yang sejati. Ia mampu mengenal ciptaan-ciptaan-Nya dan kagum dengan ciptaan tersebut tetapi ia tidak mampu melihat sang Seniman itu. Mereka tidak menguasai kebijaksanaan.

Konsep tentang tentang dosa dan maut. Maut berasal dari setan. Maut berkaitan erat dengan kefasikan dan orang yang tidak bijaksana. Maut tidak merajai bumi karena bumi berada dalam kuasa dan rencana Allah. Manusia yang mengasihi kebenaran dapat mengalahkan maut. Tubuh manusia itu berdosa dan tidak akan lolos dari penghukuman Allah kecuali jika manusia insaf dan kembali kepada Allah. Orang yang benarpun dapat melakukan dosa tetapi yang menjadikannya tetap benar adalah ia insaf dari dosa dan berbalik lagi kepada Allah.

Konsep tentang tentang setan. Setan masuk ke dalam dunia tetapi setan tidak memiliki dunia karena dunia tetap dalam kuasa Allah. Milik setan adalah maut. Maut masuk ke dalam dunia karena kedengkian setan. Orang yang menjadi milik setan akan mencari maut. 

 

PENDAPAT SEBAGAIAN PARA AHLI

Dalam buku motivasi best seller karangan Stephen R. Covey, The 7 Habit Of Highly Effective People dikatakan bahwa 10% kualitas kehidupan manusia ditentukan oleh apa yang terjadi pada dirinya, dan 90% kualitas kehidupan manusia tergantung pada bagaimana sikap nya menghadapi apapun yang terjadi. Hukum ini kemudian dikenal dengan istilah hukum 10/90.  Kecakapan, ketrampilan, kecerdasan dan kearifan menghadapi dan memaknai setiap peristiwa kehidupan, yang bermuara kepada kedamaian diri sendiri dan dalam hubungannya dengan sesama, itulah makna dari kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan memunculkan aura kedamaian, kehangatan, keberanian, rasa terhormat, perasaan bebas dalam mengekspresikan atau mengaktualisasikan pilihan hidupnya. Filsuf Cina Konfusius mengatakan: “orang yang mempraktikan kebajikan pertama-tama bertindak praktis.”  Kemudian ia berkata: “bimbinglah orang lain dalam jalan kebajikan dan kejujuran dan hormati leluhur serta alam” itulah kebijaksanaan. Zhou Chuncai, The Illustrated Book of The Analects  (Jakarta: PT. Eleks Media Kompindo, 2011), hlm. 121.

 

UNTUK KITA REFLEKSIKAN

Dalam kontsitusi para Bruder FIC art. 30 menyebutkan “Seorang manusia lebih bernilai daripada pekerjaan yang dapat ia selesaikan. Apa yang kita kerjakan memang penting. Tetapi “diri kita” justru amat lebih bernilai...” Mengusahakan kebijaksanaan kerapkali kita terbentur pada tuntutan karya yang bersifat duniawi, yaitu masalah efesiensi, efektifitas, profduktifitas, sehingga berpotensi mengesampingkan sisi manusiawi. Berbagai hal dapat kita lakukan untuk mencapai sikap bijaksana. Berbagai alasan bisa kita rangkai, bisa kita ungkapkan bahwa tindakan atau keputusan yang kita ambil itu yang paling bijaksana.  Namun, kekurangan dan kekacauan akan terjadi ketika kita tidak lagi melihat keseimbangan antara budi dan hati, kecerdasan dan kearifan, ketegasan dan hati nurani, sebagai bagian integral dalam hidup manusia. Pertanyaan reflektif untuk kita renungkan: Bagaimana kita memperlakukan sesama kita dalam hubungannya dengan hidup bersama di komunitas SMA Pangudi Luhur Don Bosko? Apakah kehadiran kita dapat membawa aura suasana damai, hangat, bersahabat, bebas, dihargai, keberanian, dimanusiakan, dicintai atau sebaliknya?

Konfusius mengatakan: Perpaduan yang manis antara budi dan hati, kecerdasan dan kearifan, ketegasan dan kemanusiaan akan menghasilkan sikap bijaksana. Bila sikap asli lebih dominan daripada kehalusan budi bahasa hasilnya adalah kekasaran, bila kehaluasan budi bahasa lebih dominan daripada sifat asli hasilnya adalah sifat suka pamer ilmu. Kekasaran sendiri bisa diinterpretasi dengan kekasaran sikap, kekasaran perilaku, kekasaran kata dan bahasa. Kekacauan yang dialami manusia dalam hidup terjadi karena manusia cenderung menonjolkan sifat aslinya. Kecenderungan itu membuat orang menjadi hilang dan tenggelam dalam dirinya sendiri. Sikap bijaksana sepertinya dibunuh oleh emosi yang tidak proporsional. Dengan demikian kebijaksanaan semakin menjauh, sehingga orang yang ada di sekitarnya tidak merasakan perasaan damai, hangat, bersahabat, bebas, dihargai, berani, dimanusiakan, dicintai namun sebaliknya. Pertanyaan reflektif: Dalam peziarahan hidup dan memaknai setiap peristiwa kehidupan, Apakah kita cenderung menonjolkan sifat asli kita atau terbuka hati terhadap bisikan roh?

Membangun sikap bijaksana diperlukan sikap keterbukaan hati, kemurahan hati. Murah hati dimengerti sebagai sikap keterbukaan untuk menerima sesuatu. Hal ini berhubugan dengan pengalaman manusia. Pengalaman adalah guru kehidupan. Pengabaian terhadap suatu pengalaman sama saja dengan meremehkan hidup. Dan sikap itu menunjuk pada keegoisan diri dan juga sikap tidak murah hati/rendah hati untuk mau dibentuk oleh pengalamannya sendiri. Di sini kita dapat melihat bagaimana keinginan manusia untuk belajar. Belajar tentang hidup, belajar untuk untuk murah hati, belajar untuk mengembangkan diri, dan belajar untuk menjadi bijaksana. Berbagai masalah atau kesulitan yang dihadapi dalam hidup sebenarnya membuat manusia semakin murah hati dalam hidupnya. Selama hidup manusia, ketika ia memiliki kemurahan hati maka sebenarnya ia sungguh memiliki hidup yang berkualitas. Dan kualitas hidup itu akan menuntun dia pada suatu kebijaksanaan sejati. Kesejatian hidup sebenarnya terbentuk ketika orang berusaha untuk murah hati dalam hidupnya dan membangun suatu sikap yang bijaksana. Hidupnya selalu berada dalam penghiburan dan ketenangan hati, hidupnya bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan bisa berdamai dengan sesamanya. Ketenangan hati membuat orang menjadi pribadi yang mampu berdamai dengan dirinya. Ketenangan hati membuat orang dapat berpikir dengan tenang. Ketenangan hati yang membuat orang dapat menguasai realitas hidup. Ketenangan hati membuat orang dapat membuat atau mengambil sebuah keputusan dengan bijak dan jernih. Lebih dari itu yakni kebijaksanaan akan menuntun orang pada sebuah kehidupan yang penuh makna. Pertanyaan reflektif: Sudahkan kita bermurah hati terhadap sesama kita?

Dalam mengusahakan kebijaksanaan sering kali kekuatan akal budi menumpulkan hatinurani manusia, dengan mengandalkan kebolehan/ kehebatannya sendiri dengan logika dan retorikanya. Berbagai tindakan main kuasa (sapa sira, sapa ingsun), penekanan, kriminal, korupsi, kolusi, nepotisme, main hakim sendiri dan lain sebagainya terjadi karena orang menjadi tumpul hatinya. Orang yang telah tumpul hatinya akan memunculkan banyak tindakan kekerasan seperti kekerasan psikologis (merendahkan, meremehkan, kata-kata kasar dan kotor), kekerasan lewat imbalan (suap), kekerasan tidak langsung (mata-mata), kekerasan tersamar, intimidasi dan lain sebagainya. Semua hal itu menunjuk pada kekuatan akal budi manusia. Semua hal bisa saja diciptakan dengan akal budi. Pertanyaan reflektif: Dalam pengambilan keputusan, apakah kita sering mengandalkan akal budi atau lebih mengandalkan bimbingan Roh? Apakah kita rutin mengusahakan waktu untuk bermeditasi untuk mengasah ketajaman suara hati?

 

REVISI

            Melalui hati yang jujur dan terdalam kita belajar tentang bagaimana menyikapi hidup. Dengan hati yang diselimuti oleh Roh kita belajar untuk murah hati. Dengan hati dibimbing oleh Roh kasih, kita belajar untuk empati dan simpati dengan orang lain. Dengan hati kita bisa belajar untuk terbuka dan bersikap apa adanya. Murah hati dalam konteks ini tidak hanya berarti suka memberi. Lebih dari itu murah hati di sini dimengerti sebagai sikap keterbukaan untuk menerima sesuatu dalam kaca mata iman. Hal ini berhubungan dengan pengalaman rohani manusia. Mengapa? Sebab pengalaman akan Allah adalah guru kehidupan rohani. Pengabaian terhadap suatu pengalaman akan Allah sama saja dengan meremehkan hidup. Dan sikap itu menunjuk pada keegoisan diri dan juga sikap tidak murah hati/rendah hati untuk mau dibentuk oleh pengalaman imannya sendiri. Belajar tentang hidup, belajar untuk untuk murah hati, belajar untuk mengembangkan diri, dan belajar untuk menjadi bijaksana.

Berbagai masalah atau kesulitan dalam hidup senyatanya cara Allah membuat kita untuk semakin murah hati menerima segala sesuatu dalam terang iman. Kemurahan hati yang direngkuh dalam genggaman tangan Allah itulah kualitas hidup kebijaksanaan. Dan kualitas hidup itu akan menuntun dia pada suatu kebijaksanaan sejati, menuntut kita pada suatu kesempurnaan. Ketenangan hati yang diselimuti oleh kuasa Roh membuat orang dapat berfikir secara positif membuat atau mengambil sebuah keputusan dengan bijak dan jernih. Sikap positif tentu lahir dari pikiran positif, reaksi negatif juga lahir dari pikiran negatif, itu sebabnya perlunya untuk membiasakan diri berfikir secara positif dalam terang Roh. Orang yang bersikap positif akan selalu open minded, siap menerima gagasan-gagasan baru dari orang lain meskipun tampaknya gagasan itu tidak masuk akal, namun orang yang bijaksana akan bisa menemukan nilai positif kehendak Allah di balik peristiwa itu.

Itu sebabnya, Br. Bernardus mengingatkan kepada kita: “Seorang...betapapun berpengalaman, betapapun mahir atau ahli dalam ilmu pengetahuan, ia tidak boleh hanya mengandalkan kebolehannya sendiri. Dalam segala hal...lebih dahulu harus mohon nasehat dan pertolongan kepada Allah dan kepada Bunda Perawan yang tak bernoda”. Lebih lanjut, Br. Bernardus menasehatkan kepada kita: “Pemimpin harus memimpin dengan bijaksana dan membimbing mereka yang dipimpin di jalan kesempurnaan...”. Menghadapi situasi  yang tidak menyenangkan sangat diperlukan sinergi keseimbangan kecerdasan, kecerdasan pikir, kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan moralnya. Maka tidak perlu mengeluarkan reaksi negatif dalam situasi yang tidak menyenangkan, apalagi sampai reaksi negatif merendahkan, meremehkan, menekan, hal itu justru akan menjauhkan diri dari sikap bijaksana. Sinergi kecerdasan yang dikuasai oleh Roh Kudus itulah  sikap bijaksana yang dapat menuntun ke jalan kesempurnaan.

 

 

 

Semarang, 29 Mei 2015

 

 

 








^:^ : IP 54.158.214.111 : 2 ms   
SMA PANGUDI LUHUR DON BOSKO
 © 2017  http://smapldonbosko.sch.id/