SMA PANGUDI LUHUR DON BOSKO
SMA PL Don Bosko - Jl Sultan Agung No 133 Semarang 50234 - Indonesia  Telp. 024-8311015
Minggu, 24 September 2017  - 2 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


26.03.2012 08:07:41 1170x dibaca.
ARTIKEL
TOGOG BERMIMPI

 

IMPIAN TOGOH TENTANG SEKOLAH MODEREN

 

 

Orang Jawa yang kurang mengenal wayang menggambarkan tokoh wayang Togog sebagai gambaran yang merujuk pada masyarakat kebanyakan, (grassroot = kawulo alit = wong cilik), nggak ngertian (ora Jowo = tidak Jawa) dengan tata krama agak konyol “preman” , dan konon dipersonifikasikan sebagai manusia bukan “Jawa”. Anehnya dengan segala keterbatasannya, termasuk soal kemampuan akademisi, di jaman “kolobendhu” dia (baca=Togog) berani mengeluarkan segala pandangannya yang mungkin saja ngawur sebagaimana uraian di bawah tentang bagaimana dia memandang SEKOLAH MODEREN yang baru lalu menjadi bahan renungannya dan pilihannya dalam menyekolahkan anaknya. Dasar Togog !!

 

Sekolah Moderen atau sering disebut sekolah  bertaraf internasional, meskipun meninggalkan banyak masalah dan carut-marut persoalan yang meredusir kepercayaan masyarakat terhadap hasil obyektif pembelajaran yang dilaksanakan oleh penyelenggaranya. Berbagai permasalahan muncul seperti banyaknya anggaran Negara yang tidak jelas “juntrungnya” dan masih lagi anggota masyarakat yang tidak kebagian kesempatan untuk menyekolahkan anakan mereka di sekolah SBI, kecurigaan mark-up anggaran di beberapa daerah atau sekolah pelaksana SBI, dan berbagai kecurangan-kecurangan anggaran yang ditengarai masyarakat sebagai suatu yang benar terjadi.

 

Dari perspektif ilmiah, masyarakat disodori proses fakta statistik yang ditayangkan berbagai media bahwa kajian akademisi yang ada ternyata dapat dipercaya kebenarannya dan sahih. Meski terdapat perbedaan angka antara perhitungan manual pelaksana SBI dengan hasil analisis akademisi, namun secara ilmiah margin yang demikian hasilnya itu sudah memberi gambaran ke depan bahwa lembaga-lembaga survey tersebut bisa diandalkan dan dipercaya kredibilitas keilmuannya.

 

Apapun hasilnya, bagaimanapun prosesnya, yang Nampak jelas adalah kompetensi pelaku pembelajaran di lembaga yang menamakan diri sekolah bertaraf internasional, masih tergolong konservatif, Sekolah Bertaraf Internasional pernah mendapat ketetapan dari Pemerintah, meskipun masih dapat diperdebatkan. Ada bahkan banyak yang kecewa dan complain, ada pula yang menerima hasil keketapan itu. Yang kecewa berbondong-bondong mengadukan “kecurangan penyelenggaraan SBI” -menurut pandangannya-  ke Mahkamah Konstitusi. Beberapa tokoh nasional bahkan ada yang membentuk “barisan” untuk tidak menerima dan mencoba medelegitimasikan SBI. Ada pula “barisan” tandingan yang menentang pendelegitimasian  SBI. Apapun kiprah para tokoh yang “manggung” di pentas ini, faktanya adalah terbentuknya “Peta” baru kekuatan dan konstelasi Pendidikan Indonesia yang jika dibandingkan dengan era 2004 dan bahkan 1998, sungguh berubah.

 

 

 

 

 

 








^:^ : IP 54.81.59.211 : 2 ms   
SMA PANGUDI LUHUR DON BOSKO
 © 2017  http://smapldonbosko.sch.id/